Karyawan Anda Emosian?

Sikap karyawan yang gampang meledak (burnout) menurut dua profesor psikologi Dr. Christina Maslach dan Dr. Michael P. Leitter dalam Psychology Today, kini telah menjadi masalah serius di lingkungan kerja. Di berbagai belahan dunia, perusahaan terpaksa harus melakukan perampingan, outsourcing, dan restrukturisasi, yang menyebabkan karyawan di berbagai level merasa stres, tidak aman, disalahartikan, tidak berharga, dan sebagainya. Biaya karena karyawan tidak gembira/bahagia baik bagi karyawan maupun bagi perusahaan sebetulnya tinggi, sebab biasanya karyawan yang sedang resah akan bekerja asal-asalan dan minimalis.

Manajemen perusahaan biasanya menyalahkan sikap emosian karyawan itu sebagai kesalahan karyawan itu sendiri. Karyawan dianggap tidak kompeten atau memiliki masalah sikap. Namun, hasil riset kedua profesor ini terhadap ribuan karyawan, menunjukkan hal sebaliknya. Untuk mendukung survei, mereka menciptakan Maslach Burnout Inventory, yang kini menjadi alat standar riset pengukuran bidang ini (burnout). Alat ini berguna memahami bagaimana perasaan orang tentang pekerjaannya, lingkungan kerja, dan individu yang kerap berhubungan dengannya saat bekerja.

Analisis statistik dari survei tersebut menyimpulkan bahwa fenomena karyawan gampang meledak bukanlah masalah orang, tetapi lebih karena tempat mereka bekerja. Bilamana lingkungan kerja tidak mempertimbangkan sisi manusiawi atau membutuhkan upaya kemanusiaan yang tinggi, orang merasa terbebani, frustrasi, dan akhirnya gampang emosi. Peningkatan pribadi saja tidak memadai.

Riset menunjukkan ada 6 area kunci yang sangat menentukan kegembiraan para karyawan: beban kerja, kontrol, imbalan, komunitas, keadilan, dan sistem nilai. Jika semua hal itu ada di perusahaan Anda, maka karyawan akan merasa gembira dan bersemangat. Berikut adalah penjelasan tentang 6 area sumber burnout:

1. Beban kerja (workload)

Bagi seseorang yang emosian, beban kerja dianggap terlalu berat, waktu terlalu sedikit, dan tidak tersedia sumber daya yang membuatnya terbantu ataupun untuk bisa mengembangkan potensinya di luar kapasitas. Bagi mereka, pekerjaan dianggap telah menelan kehidupan mereka. Sebaliknya, bagi orang yang tetap mantap (stay cool), beban kerja seperti itu dianggap masih bisa dikelola, memungkinkan Anda memenuhi tuntutan pekerjaan, dan mengembangkan kemampuan menghadapi tantangan baru.

2Perasaan terhadap kontrol (Control)

Aturan yang kaku atau lingkungan pekerjaan yang kacau menghambat seorang yang emosian untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Seringkali mereka kesal dengan mengatakan “Saya tidak bodoh.”

3. Terkait imbalan (Reward)

Karyawan yang mudah meledak merasa tidak pernah dihargai sehingga berpikir bahwa pekerjaan Anda tidak berharga. Akibatnya, ia menjadi tidak gembira dan putus asa.

4. Terasing dari komunitas (community)

Meningkatnya tensi dengan yang lain dalam bekerja membuat karyawan merasa frustrasi, marah, ketakutan, merasa asing, tidak dihormati, dan dicurigai. Komunitas juga terasa menjauh jika Anda secara fisik atau sosial terisolasi dari para kolega. Bagi karyawan yang sedang emosian, mereka merasa tidak ada semangat tim.

5. Tidak ada keadilan (Fairness)

Karyawan emosian karena merasa ada ketidakadilan dalam perusahaan, misalnya soal insentif; mungkin juga salah dalam melakukan evaluasi dan promosi; atau ada yang mendapatkan penghargaan sementara yang lain terabaikan.

6. Sistem nilai (Value)

Kadang-kadang sebuah pekerjaan bisa menyebabkan karyawan melakukan segala sesuatu yang tidak etis atau hal bertentangan dengan nilai-nilai pribadi (misalnya, berbohong untuk bisa menjual). Kadang-kadang orang terperangkap. antara nilai-nilai yang saling bertentangan, terutama jika perusahaan tidak mempraktikkan nilai-nilai terbaiknya. Akibatnya, Anda memandang buruk diri sendiri dan pekerjaan yang Anda jalankan.

Lalu, bagaimana mencegah Burnout ?

Mulailah dengan diri sendiri. Anda bisa mengubah lingkungan kerja sendirian. Caranya, Anda bisa memulai proses dengan mengambil peran kepemimpinan. Itu berarti, melakukan riset, membuat yang lain terlibat, dan bekerja dengan mereka dalam bertindak. Hal ini akan menyedot banyak energi dan keberanian, termasuk mengambil risiko. Jadi bersiaplah untuk memulai perjalanan yang melelahkan. Toh imbalan menjadi pemimpin yang bagus sangat menarik.

Buat ia menjadi sebuah proyek grup. Anda butuh pengikut dan kolega untuk menghasilkan dampak. Grup Anda harus setuju masalah apa yang perlu ditangani pertama kali, dan menyusun prioritas bagaimana mengatasinya. Anda harus saling dukung dalam bertindak sekaligus mempertahankan momentum perubahan. Kekuatan akan nyata bila dilakukan banyak orang.

Buat menjadi gerakan organisasi. Langkah penting berikutnya adalah mendapatkan dukungan lebih luas, yaitu organisasi. Studi menunjukkan untuk sukses, gerakan seseorang atau grup memerlukan dukungan dari manajemen dan seluruh pihak lainnya.

Biarkan roda berputar. Mulailah dengan menangani satu masalah. Pilihlah masalah yang sangat potensial menimbulkan burnout yang bisa dipecahkan dengan solusi kongkrit. Pemecahan satu masalah akan berdampak besar kepada yang lainnya, karena keenam area di atas saling terkait. Memecahkan satu masalah akan membantu mengatasi 5 masalah lainnya. Mengatasi isu seputar keadilan (fairness), umpamanya, akan memperjelas nilai-nilai (values) dan memperkuat perasaan sesama komunitas (community). Dalam lingkungan pekerjaan yang mirip, Angelique de Rijk, Pd.D., dan kolega menemukan bahwa para pekerja yang aktif mengatasi masalah dalam lingkungan organisasi dilaporkan paling sedikit mengalami burn-out ketimbang mereka yang mengambil sikap pasif terhadap permasalahan organisasi.

Tekankan pada proses. Proses pemecahan masalah jauh lebih penting daripada hanya membuat hasil akhir yang menggembirakan. Pekerjaan adalah sebuah proses yang terus berjalan. Dibutuhkan sistem untuk beradaptasi dengan basis sedang berjalan. Buatlah kebiasaan untuk memeriksa secara reguler potensi burn-out dalam 6 area di atas. Sekali memulai proses, momentum perubahan akan muncul dengan sendirinya. (edj)

(Sumber : Change or Die, majalah human capital)

Tinggalkan komentar

Filed under 4. Others

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s