Peran Sistem Nilai dan Asumsi (SINA) Dalam Kerja Sama Tim

Untuk memperlancar kerja sama, seorang Pimpinan perlu mengenali “SINA” rekan kerja dan bawahanya. Butir “SINA” yang terutama perlu dikenali adalah yang bersangkutan dengan Citra Diri dan Orientasi Ambisi. Dengan mengenal orientasi ambisi seseorang kita dapat lebih lebih tepat meramalkan tindakan-tindakannya. Kita juga dapat lebih mudah mencari kemungkinan-kemungkinan yang sesuai dengan kepentingan perusahaan, tetapi tidak bertentangan dengan kepentingan individu.

Sistem nilai dan asumsi (SINA) adalah penafsiran subyektif seseorang terhadap realitas (baik yang menyangkut diri sendiri maupun yang berkaitan dengan lingkungannya) dan berisi kumpulan keyakinan seseorang tentang benar – salah, baik – buruk, penting – tidak pentingnya hal-hal tertentu dalam hidupnya. Jika seseorang menganggap bahwa kebahagian di akhirat lebih penting daripada kesenangan di dunia, maka anggapan ini merupakan bagian dari SINA nya.

Singkatnya, SINA adalah kumpulan dari hal-hal yang oleh orang yang bersangkutan dipercaya sebagai suatu kebenaran.

SINA adalah salah satu komponen yang sangat mempengaruhi pengenalan terhadap diri seseorang.

Nilai adalah segala sesuatu yang mendasari seseorang atau masyarakat dalam memberikan penilaian baik – buruk, indah – jelek, bersih – kotor, bernilai – tidak berharga, benar – salah, diinginkan – tidak diinginkan (Lusting M.W).

Fungsi Nilai adalah memberikan patokan atau kriteria dalam mengarahkan tindakan, pendapat, pilihan sikap, penilaian, argumen, rasionalisasi, alasan dan sebagainya.

Sistem nilai adalah perangkat nilai-nilai yang diterima oleh seseorang atau masyarakat.

Berdasarkan tingkat keyakinan dalam SINA dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:

  • Tingkat DUGAAN          : adalah hal-hal yang oleh orang yang bersangkutan disadari sebagai hanya dugaan yang tidak mempunyai bukti-bukti. SINA pada tingkatan ini sangat mudah berubah.
  • Tingkat KESIMPULAN : adalah hal hal yang di percaya oleh orang yang bersangkutan sebagai hasil penalaran. Yang bersangkutan merasa punya cukup bukti untuk memiliki SINA seperti itu. SINA pada tingkatan ini masih mungkin berubah jika yang bersangkutan mendapatkan bukti-bukti yang bertentangan dengan kesimpulannya.
  • Tingkat KEYAKINAN   : adalah hal hal yang tidak diragukan kebenarannya, bahkan jika yang bersangkutan tidak memiliki bukti-bukti yang mendukung anggapannya ini. Bahkan jika ada bukti-bukti yang bertentangan dengan anggapannya ini, ia cenderung menyangkal bukti ini. SINA pada tingkatan ini sangat sulit berubah.

SINA mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  • Berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya
  • Berisikan hal-hal logis, namun dapat juga berisikan hal-hal tidak logis
  • Tidak selamanya merupakan pemikiran yang rasional
  • Bisa saling bertentangan pada satu orang yang sama

SINA terbentuk dari:

  • Pengalaman sendiri dan orang lain
  • Renungan
  • Pemikiran

Pengelompokan butir-butir SINA, yaitu:

  • Citra diri
  • Orientasi ambisi
  • Cara memandang nasib
  • Asumsi tentang hakikat manusia
  • Asumsi-asumsi lainnya

Butir-butir SINA yang penting untuk kepentingan praktis yaitu Orientasi ambisi dan Citra diri.

Yang dimaksud dengan orientasi ambisi adalah tujuan psikologis yang ingin dicapai seseorang melalui pencapaian keinginan-keinginan kongkritnya. Pada umumnya walaupun seseorang menginginkan bermacam-macam hal konkrit yang berbeda-beda, namun biasanya keinginan-keinginan konkrit tersebut didasari oleh suatu tujuan psikologis yang sama.   Contoh:

Orang  yang  punya bermacam-macam keinginan konkrit seperti makanan yang enak, istirahat yang tenang, kemudahan-kemudahan dalam melakukan perjalanan, dsb. Keinginan-keinginan ini kelihatannya berbeda satu dengan yang lainnya, tetapi kalau diperhatikan, semuanya memiliki persamaan, yaitu semua keinginan itu mengarah pada “kenikmatan hidup”. Kenikmatan hidup inilah yang disebut sebagai ”orientasi ambisi” dari orang yang bersangkutan.

Sedangkan Citra diri adalah bagian dari SINA yang berisi anggapan dan keyakinan seseorang tentang statusnya, haknya, kewajibannya, kemampuannya, penilaian orang lain tentang dirinya, dan lain-lain yang berhubungan dengan dirinya. Singkatnya, citra diri adalah jawaban seseorang  terhadap pertanyaan “SIAPA SAYA ?”. Salah satu bagian citra diri yang perlu dibahas untuk kepentingan kerja sama adalah bagian yang berisikan anggapan dan keyakinan seseorang tentang peran dan fungsinya  dalam kelompok kerja di mana ia bergabung. Bagian ini disebut sebagai role-perception. Isinya adalah  dugaan, anggapan dan keyakinan orang yang bersangkutan tentang hal-hal yang harus ia lakukan dan dapat ia tuntut sehubungan dengan peran yang dijalankannya. Role perception yang dimiliki seseorang belum tentu sama dengan anggapan/keyakinan rekan-rekannya yang lain.

Anggapan atau keyakinan yang dimliki orang lain tentang hak dan kewajiban pemegang peran tertentu disebut sebagai role–expectation. Adanya perbedaan antar “role-perception” dan “role expectation” inilah yang sering mengakibatkan timbulnya kesalahpahaman dalam suatu kelompok kerja.

Apa peran SINA dalam kerja sama yang perlu diperhatikan?

Perbedaan SINA yang ada diantara orang –orang yang sedang bekerja sama biasanya akan merupakan penghambat bagi lancarnya kerja sama itu. Oleh karena itu orang-orang yang tergantung dalam kelompok yang bekerja sama harus berusaha untuk bertukar pikiran, supaya bisa dicapainya persamaan pendapat mengenai hal-hal yang penting bagi kerja sama itu. Penyesuaian pendapat ini mungkin saja tercapai , sebab:

  • Butir-butir SINA terutama yang berada pada tingkat dugaan masih mungkin mengalami perubahan. Dengan adanya butir-butir SINA yang berubah pada masing-masing orang, bisa tercapai penyesuaian pendapat diantara mereka.
  • Tidak semua butir-butir SINA ada kaitannya dengan kerja sama yang berlangsung. Perbedaan butir SINA yang berkaitan dengan agama dan kepercayaan, tidak akan menghalangi kerja sama antara orang-orang yang sedang memperbaiki  kinerja PERTAMINA menuju world class, misalnya.

Kerja sama baru terganggu, bila butir SINA yang berbeda adalah butir-butir mengenai cara terbaik dalam menyelesaikan tugas mereka. (edj)


(Sumber: Pelatihan pengenalan dan pengembangan diri pekerja Pertamina, LPTUI,2002)

Tinggalkan komentar

Filed under 4. Others

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s