Mengejar Tujuan Teguh Yang Tepat

Kalau kita hanya berusaha mengejar hasil dan target, maka hasil dan target yang dicapai itu tidak akan berkesinambungan…

– Mitsuo Kinoshita, Executive Vice President Toyota –

Toyota mungkin saja merupakan pembuat mobil terbesar dunia, tetapi perusahaan ini lebih dari sekadar mobil. Sejumlah orang mungkin berasumsi sebagian kesuksesan Toyota berasal dari warisan budaya dan disiplin ala Jepang yang kaya, tetapi hanya sedikit sekali kisah sukses yang bisa dijelaskan  dengan mudah seperti ini. Selain itu, merancang, memproduksi, dan menjual hampir sepuluh juta mobil setahun sekaligus mendapatkan keuntungan serta memuaskan sebagian besar konsumennya tidak bisa dianggap mudah.

Sejumlah orang menyandingkan kesuksesan Toyota dengan efisiensi dan sistem manufaktur unik perusahaan ini, yang terus-menerus memproduksi mobil-mobil yang paling mengesankan dalam industri otomotif. Namun hal ini hanyalah sebagian kecil dari kekuatan sesungguhnya perusahaan. Para Manajer yang berusaha meniru kesuksesan Toyota harus  memerhatikan lebih besar dari sekedar sistem manufaktur yang telah dipatenkan perusahaan ini. Berbagai bagian yang membentuk Toyota, mulai dari aplikasi, filosofi manajemen, sampai produk, berpadu menciptakan suatu mesin pertumbuhan yang luar biasa konsisten. Sementara para pesaingnya di Amerika menghadapi ancaman kepunahan, Toyota belum pernah mengalami triwulan tanpa laba selama lebih dari setengah abad ditengah pasar mobil global yang penuh gejolak dan sangat kompetitif, hal ini adalah suatu prestasi luar biasa.

Cara perusahaan menangani karyawan barunya juga sama pentingnya bagi kesuksesannya seperti caranya mengatur arus komponen ke pabrik-pabrik perakitan. Pendekatan perusahaan terhadap kemitraaan dan aliansi juga sama pentingnya dengan pendekatannya terhadap kualitas . Rahasia kesuksesan Toyota tidak terletak pada salah satu bidang ini, tetapi dalam  cara perusahaan ini melakukan pendekatan terhadap bisnisnya secara keseluruhan dengan fokus mendasar pada “rasa hormat pada karyawan”. Itulah yang membuat pelajaran yang diberikan Toyota bisa diaplikasikan oleh Bank, pedagang eceran atau pabrik. Dengan tetap berfokus pada idealisme yang tinggi dan dengan cara mengimplementasi serta menjaga struktur bisnis yang mendorong setiap karyawan terlibat aktif dalam mencapai tujuan perusahaan, Toyota mengembangkan sebuah perusahaan bergelora yang mampu meregenerasi diri.

Dengan pendekatan unik yang dimilikinya, Toyota berhasil menjadi salah satu korporasi yang paling dikagumi, berkembang, dan berlaba di dunia; melampaui kompetitor dan menempati posisi yang berpotensi memiliki kontribusi global tak terbatas di abad ke-21.

Toyota  bermula sebagai perusahaan keluarga di bidang perdagangan tekstil. Sakichi Toyoda (1867-1930) putra dari perusahaan keluarga tersebut terus-menerus memecahkan masalah dan mengembangkan mesin tenun manual untuk menemukan cara terbaik dan memudahkan kerja penenunan. Akhirnya setelah mendapatkan lebih dari 100 paten serta tercatat dalam sejarah di posisi yang sejajar dengan  Thomas Edison dan Henry Ford, Toyoda menemukan mesin tenun otomatis pertama di Jepang, dengan terus-menerus melakukan perbaikan-perbaikan metode manufaktur, terus mempelajari cara orang bisa membuat berbagai benda dengan lebih mudah dan efisien. Akhirnya, riset Toyoda  mengadopsi prinsip Jidoka, yaitu kemampuan orang memengaruhi kualitas produksi mesin di satu sumber, salah satu soko guru cara Toyota memanufaktur produk sekarang ini.

Sakichi Toyoda wafat pada tahun 1930, mewariskan Toyoda Automatic Loom Works kepada putranya. Lima tahun kemudian, putranya Kiichiro Toyoda meneguhkan secara resmi filosofi bisnis ala Sakichi Toyoda sebagai prinsip operasional perusahaan. Prinsip asli Toyoda (1935) ini menjadi dasar bagi cara khas Toyota menjalankan bisnisnya sampai saat ini, sebagai berikut:

  1. Berkontribusi pada pembangunan dan kemaslahatan negara dengan cara bekerja sama, terlepas dari posisi yang dimiliki, dan dengan setia menjalankan tugas yang ada
  2. Memposisikan diri lebih maju lewat kreativitas, rasa ingin tahu, dan pengejaran perbaikan tanpa batas
  3. Bersikap praktis dan menghindari sikap main-main
  4. Murah hati dan dermawan; berusaha menciptakan lingkungan yang hangat seperti di rumah
  5. Bersikap menghargai dan menunjukkan rasa terima kasih atas semua hal, besar maupun kecil, dalam pikiran dan perbuatan. (edj)

(Sumber: How Toyota became  # 1, by David Magee, 2008)

Tinggalkan komentar

Filed under 4. Others

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s