TRANSFORMASI SHIPPING, PORT AND NETWORK

Pertamina Perkapalan berdiri sejak tahun 1959 dan merupakan rantai bisnis Pertamina yang sangat penting dan strategis di dalam pengangkutan dan penyaluran Migas ke seluruh pelosok Indonesia. Berdasarkan analisis oleh lingkungan ekternal, Pertamina Perkapalan merupakan market leader di dalam bisnis angkutan laut dengan mengangkut sekitar 48 % jumlah kargo migas di Indonesia.

Seiring dengan perjalanan waktu dan dalam menyikapi kondisi dan tantangan ke depan, Perkapalan telah melakukan Transformasi Pelabuhan (Port Transformation) yang merupakan mata rantai tak terpisahkan di dalam  penyaluran minyak melalui laut.

Gambar 1. Hubungan antara transformasi shipping, port dan network dengan transformasi supply chain Pertamina secara keseluruhan

Program Transformasi Pelabuhan dimulai pada April 2008 dengan pilot project di Pelabuhan Jakarta dan Pelabuhan RU V Balikpapan. Sampai dengan Agustus 2009, Perkapalan telah melaksanakan transformasi secara simultan di sejumlah 75 Pelabuhan baik di lingkup Supply dan Distribusi (S&D) maupun Pelabuhan Pengolahan (Refinery).

Gambar 2. Pemetaan pelabuhan-pelabuhan yang sudah dan akan ditransformasi (s/d Agustus 2009)

Berbeda dengan keadaan sebelumnya, program transformasi Pelabuhan yang sedang dilaksanakan saat ini tidak hanya berfokus pada Lay Time saja, akan tetapi kita telah memiliki formulasi Integrated Port Time (IPT) yang lebih komprehensif. Melalui konsep ini, setiap waktu kapal di pelabuhan dari ATA sampai ATD akan dihitung dan dipertanggung jawabkan.

Gambar 3. Perbedaan konsep Integrated Port Time dengan Lay Time

Penetapan base line dan target port time merupakan analisa dan langkah awal yang akan dijadikan sebagai salah satu parameter dan tolok ukur penentuan keberhasilan penurunan Port Time. Target ditentukan dengan penetapan waktu standar dari setiap aktifitas sejak kapal tiba hingga berangkat lagi menggunakan metode SMED (Single Minute Exhange Die) dan VIFA (Vessel Information Flow Analysis). Hal ini sekaligus akan dijadikan dasar dalam melakukan kesepakatan dan kontrak kerja (Key Performance Indicator) guna menjamin hak dan kewajiban antara  fungsi dalam pelaksanaan  setiap tahapan  proses kegiatan.

Di dalam upaya untuk mencapai sasarannya, Transformasi Pelabuhan menggunakan enam inisiatif utama yang merupakan faktor kunci di dalam menurunkan port time, yaitu seperti yang tertera di Gambar 4.

Gambar 4. Enam inisiatif utama di dalam Transformasi Pelabuhan

Berdasarkan hasil evaluasi kinerja port time di pelabuhan-pelabuhan yang telah ditransformasi sampai dengan bulan Agustus 2009, Pertamina telah berhasil menurunkan Port Time sebesar  ~7 %. Pencapaian ini merupakan hasil kerja keras dari seluruh pekerja terkait. Bagaimanapun, masih banyak sekali ruang perbaikan di transformasi Pelabuhan. Mari kita berjuang dan saling mendukung di dalam mencapai hasil yang jauh lebih lagi! Salam Transformasi Pelabuhan! (mth)

Tinggalkan komentar

Filed under 2. Ports

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s